Posted by: Albi Samjaya | March 24, 2012

My Name is Khan – Kehidupan Seorang Penderita Asperger Ditengah Paranoia Masyarakat Amerika


Film My Name is Khan adalah film yang disutradarai Karan Johar dan diproduseri Dharma Productions dan Red Chilles Entertainment, Film ini yang berasal dari India ini dirilis pada tanggal 12 Februari 2010, bahasa yang digunakan dalam film ini adalah bahasa India dan Inggris. Film yang menceritakan kehidupan seorang penderita sindrom asperger ditengah paranoia masyarakat Amerika setelah peristiwa 9-11. Film yang di perankan oleh Shahrukh Khan ini bernuansa religius kental dan dipenuhi banyak filosofi yang mendidik, dimana toleransi dan sikap saling menolong di utamakan, serta ironi-ironi yang di beberapa scene anda akan dibuat menitikkan air mata. Film ini adalah tontonan wajib bagi semua orang yang mencintai perdamaian dan membenci rasisme dan kekerasan.

Rizwan Khan adalah seorang anak Muslim yang tumbuh bersama saudaranya Zakir dan ibunya Razia Khan dalam sebuah keluarga kelas menengah di bagian Borivali Mumbai. Rizwan dan adiknya adalah anak-anak yang pintar, namun karena kekurangannya Rizwan sering mendapatkan ejekan dan gunjingan dari orang-orang disekitarnya. Rizwan dapat dikatakan berbeda dari anak-anak lain, namun ia memiliki karunia tertentu, khususnya kemampuan khusus untuk memperbaiki hal-hal yang bersifat mekanis. Perhatian khusus yang diberikan kepada Rizwan membuat adiknya iri dan membenci Rizwan. Perbedaan yang dimiliki Rizwan membuatnya mengikuti les khusus dari seorang sarjana tertutup dan perhatian ekstra dari ibunya yang mengarah pada kecemburuan dari saudaranya Zakir yang pada beberapa saat memuncak, yang akhirnya meninggalkan keluarganya untuk hidup di Amerika Serikat.

Meskipun membenci kakaknya, sebagai orang dewasa Zakir memberikan bantuan kepada Rizwan untuk datang dan tinggal bersamanya di San Francisco setelah kematian ibu mereka. Ini adalah saat istri Zakir, Haseena Rizwan menyadari kakak iparnya didiagnosis mengidap sindrom Asperger. Rizwan juga mulai bekerja untuk Zakir sebagai salesman sebuah produk herbal Menhaz, tugasnya adalah datang ke salon-salon untuk menawarkan prodiknya, dan dalam proses penjualan ia bertemu seorang wanita Hindu, Mandira dan seorang anak muda, Sameer atau Sam yang kemudian diketahui anak dari Mandira dari pernikahan sebelumnya. Mandira adalah seorang penata rambut. Meskipun berselisih dengan Zakir tentang larangan Zakir pada Rizwan untuk menikahi Mandira karena perbedaan agama keduanya, mereka menikah dan menetap di kota fiksi Banville, di mana kedua Mandira dan Sameer mengambil nama belakang Khan sebagai mereka sendiri. Mereka juga hidup bertetangga dengan keluarga Garrick. Sameer dekat dengan anak mereka yang sebaya dengannya, Reese sedangkan Markus adalah seorang reporter dan Sarah adalah teman Mandira.

Keberadaan sempurna Khan akan terganggu bagaimanapun setelah serangan 11 September di New York City. Mark pergi untuk meliput perang di Afghanistan dan sayangnya meninggal di sana saat bertugas. Pada saat yang sama keluarga Khan mulai mengalami pengucilan setelah peristiwa 9-11 berbagai prasangka muncul pada komunitas Islam dan orang-orang yg seperti Islam, dan Reese mulai berbalik membenci Sam juga. Suatu sore sebuah argumen antara mereka berubah menjadi perkelahian sekolah bermotif rasial antara Sameer dan sejumlah siswa yang lebih tua. Reese mencoba untuk menghentikan perkelahian tetapi ia ditahan oleh salah satu siswa rasis yang tengah memukuli Sam. Sayangnya Sam meninggal karena luka-lukanya. Hati Mandira hancur menyalahkan Rizwan atas kematiannya menyatakan bahwa Sameer “mati hanya karena namanya Khan.” Dia kemudian memberitahu Rizwan bahwa ia tidak lagi ingin bersama dia. Ketika dia bertanya apa yang harus ia lakukan untuk bersama dengan Mandira, secara sinis Mandira mengatakan kepadanya bahwa ia harus memberitahu semua orang di Amerika Serikat dan Presiden bahwa namanya adalah Khan dan bahwa dia bukan teroris.

Rizwan menganggap perkataan Mandira dengan serius dan dengan demikian menetapkan sebuah perjalanan yang membawanya dari satu negara bagian AS ke negara bagian lain dalam rangka untuk pertama kali bertemu Presiden George W. Bush (yang sedang menjabat) dan kemudian akhirnya Presiden terpilih baru (Barrack Obama). Disisi lain Mandira terus berupaya mengkampanyekan penyelidikan terhadap kematian Sameer, putranya yang sampai saat itu polisi tidak dapat melacak siapa pelakunya. Selama mencari presiden, Rizwan melakukan perjalanan ke Wilhemina, Georgia dan berteman Mama Jenny dan putranya Joel. Kemudian, di Los Angeles dia berdoa di Masjid dan sengaja mendengar retorika kekerasan dari Faisal Rahman. Dia melaporkan ini ke FBI tetapi tidak ada respon pada saat itu. Kemudian sambil menunggu dalam kerumunan untuk bertemu Presiden Bush dan mengulang lagi dan lagi “Nama saya adalah Khan dan saya bukan teroris,” Rizwan ditangkap dan ditempatkan dalam penjara oleh polisi yang salah menafsirkan pernyataannya berpikir ia berkata bahwa ia adalah seorang teroris.

Sementara di penjara ia diinterogasi sebagai tersangka teroris dan memenuhi psikiater Radha yang percaya bahwa dia tidak bersalah. Dia kemudian dibebaskan setelah kampanye media oleh beberapa mahasiswa wartawan India Raj dan Komal dan Bobby Ahuja, yang membuktikan dirinya tidak bersalah dengan menggali upaya untuk menginformasikan FBI tentang Faisal Rahman. Setelah dibebaskan ia kembali ke Wilhemina yang sedang dihantam badai untuk membantu Mama Jenny dan putranya. Upayanya menarik perhatian media banyak orang Muslim datang untuk membantu para korban badai.

Pada saat yang sama Reese bersaksi atas pembunuhan Sameer. Mandira dan mengungkapkan identitas anak laki-laki yang membunuh Sam. Dia menginformasikan Detektif Garcia yang telah membantunya dalam kasus ini, dan Detektif Garcia pun melakukan penangkapan terhadap mereka. Mandira kemudian mendapat telpon dari Sarah untuk memaafkan Rizwan, “Aku kehilangan suamiku, jangan kehilangan dia.”

Mandira menyadari kesalahannya dan dia memutuskan untuk bergabung dengan Rizwan di Georgia dan menyalakan kembali cinta mereka. Namun pada saat ia tiba Rizwan ditusuk oleh seorang pengikut Faisal Rahman, menuduhnya sebagai pengkhianat Islam, dan Rizwan segera dibawa ke rumah sakit. Dengan bantuan Mandira itu, Rizwan bertahan dan memenuhi janjinya kepada Mandira untuk menemui presiden terpilih Barack Obama dan berkata kepadanya: “Nama saya adalah Khan dan saya bukan teroris”. Film ini diakhiri dengan Rizwan dan Mandira akan kembali ke rumah.

Pada Film ini Rizwan Khan atau tokoh utama diceritakan sebagai seorang penderita sindrom asperger yang membuatnya benci akan warna kuning dan takut akan kebisingan. Namun dengan ajaran dari ibunya dan ketaatannya pada agamanya (Islam) ia menjadi pribadi yang lucu dan tentunya baik. Hal ini dapat diketahui dari ketika ia menawarkan produk-produknya dengan polos ia berkata “ditulisannya barang itu akan dikirim dalam tujuh hari, kami bohong sebenarnya narang akan dikirim dalam sepuluh hari.” Selain itu ketaatannya dapat dilihat ketika orang muslim disekitarnya takut untuk melakukan shalat karena takut di timpali aksi anarkhis ia tetap menjalankannya. Sebuah pesan moral juga ditunjukkan agar pemirsa menjadi pribadi yang amanat, hal ini ditunjukkan dengan Khan yang tidak lupa menyampaikan pesan yang diberikan oleh seorang keamanan bandara untuk sang presiden. Selain itu pesan inti dari film ini adalah untuk saling menghormati dan menghargai sesama umat beragama.

“didunia ini ada dua perbedaan orang, yang pertama orang baik yang selalu berbuat baik dan yang kedua orang jahat yang selalu berbuat jahat.”

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/My_Name_is_Khan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: