Posted by: Albi Samjaya | June 30, 2013

Abnormalitas : Konsep Motivasi, Stress, dan Gender

Abnormalitas (atau perilaku disfungsional) adalah sesuatu yang menyimpang dari normal atau berbeda dari yang khas, adalah perilaku karakteristik yang ditentukan secara subyektif, diberikan untuk mereka yang memliki kondisi langka atau disfungsional. Mendefinisikan yang normal atau abnormal adalah isu kontroversial dalam psikologi abnormal.

Berikut adalah beberapa kriteria konvensional abnormalitas :

– Jarang Secara Statistik
Seperti orang yang sangat bodoh dan sangat cerdas, keduanya dapat dinyatakan abnormal karena jumlah yang sedikit dibandingkan yang rata-rata. Oleh karena itu perilaku abnormal individu dianggap tidak biasa secara statistik serta bukan merupakan hal yang diinginkan.

– Distress
Seseorang yang menampilkan banyak depresi, kecemasan, ketidakbahagiaan, dll akan dianggap sebagai menunjukkan perilaku abnormal karena perilaku mereka muncul karena kesusahan mereka sendiri.

– Moralitas
Agak sulit untuk menentukan bahwa seseorang abnormal dari sisi ini, karena tidak mungkin untuk menyetujui hanya satu perangkat moral untuk keperluan diagnosis.

– Maladaptivitas
Jika seseorang berperilaku dengan cara yang kontra-produktif untuk kesejahteraan mereka sendiri, itu dianggap maladaptif. Meskipun lebih dipertahankan dari kriteria di atas, kriteria ini memang memiliki beberapa kekurangan. Misalnya, perilaku moral yang termasuk perbedaan pendapat dan perilaku pantang dapat dianggap maladaptif bagi beberapa orang.

– Melanggar Standar Masyarakat
Ketika orang tidak mengikuti aturan sosial dan moral konvensional masyarakat perilaku mereka dianggap abnormal. Hal yang dikira harus diperhatikan adalah besarnya pelanggaran dan seberapa sering itu dilanggar oleh orang lain harus dipertimbangkan. Unsur lain dari kelainan adalah bahwa perilaku abnormal akan menyebabkan ketidaknyamanan sosial bagi mereka yang menyaksikan perilaku tersebut.

Kriteria standar dalam psikologi dan psikiatri adalah bahwa penyakit mental atau gangguan mental. Penentuan kelainan berdasarkan diagnosa medis. Hal ini sering dikritik karena menghilangkan kontrol dari ‘pasien’, dan menjadi mudah untuk dimanipulasi oleh tujuan politik atau sosial.

Perilaku abnormal (abnormal behavior) atau yang sering disebut oleh para ahli dengan gangguan perilaku (behavior disorder) sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan antara perilaku yang abnormal dan perilaku normal. Tetapi untuk mempertegas pengertiannya yaitu bahwa perilaku abnormal adalah perilaku yang menyimpang dari hal yang normal.

Ada beberapa sudut pandang untuk memperjelas tentang abnormal, diantaranya :

– Abnormalitas menurut konsepsi statistik
Secara statistik suatu gejala dinyatakan sebagai abnormal bila menyimpang dari mayoritas. Misalnya, dalam suatu kelas berisi mayoritas anak-anak yang mempunyai kemampuan rata-rata tetapi ada beberapa anak yang memiliki kemampuan jauh diatas dan dibawah rata-rata maka anak yang baik diatas rata-rata maupun dibawah rata-rata tersebut dapat dikatakan abnormal.

– Abnormal menurut konsepsi patologis
Berdasarkan konsepsi ini tingkah laku individu dinyatakan tidak normal bila terdapat simptom-simptom (tanda-tanda) klinis tertentu, misalnya ilusi, halusinasi, obsesi, fobia, dst. Sebaliknya individu yang tingkah lakunya tidak menunjukkan adanya simptom-simptom tersebut adalah individu yang normal.

– Abnormal menurut konsepsi penyesuaian pribadi dan sosio kultural
Menurut konsepsi ini seseorang dinyatakan penyesuaiannya baik bila yang bersangkutan mampu menangani setiap masalah yang dihadapinya dengan berhasil. Dan hal itu menunjukkan bahwa dirinya memiliki jiwa yang normal. Tetapi bila dalam menghadapi masalah dirinya menunjukkan kecemasan, kesedihan, ketakutan, dst. yang pada akhirnya masalah tidak terpecahkan, maka dikatakan bahwa penyesuaian pribadinya tidak baik, sehingga dinyatakan jiwanya tidak normal.

– Abnormal menurut konsepsi penderitaan/tekanan pribadi
Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu. Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan. Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik. Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan standar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.

– Perilaku berbahaya
Perilaku yang menimbulkan bahaya bagi orang itu sendiri ataupun orang lain dapat dikatakan abnormal.

– Abnormalitas menurut konsepsi kematangan pribadi

Menurut konsepsi kematangan pribadi, seseorang dinyatakan normal jiwanya bila dirinya telah menunjukkan kematangan pribadinya, yaitu bila dirinya mampu berperilaku sesuai dengan tingkat perkembangannya.

– Disability (tidak stabil)

* Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.

* Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual.

Abnormalitas dan Konsep Motivasi
Setiap individu pada dasarnya memiliki konsep motivasi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Konsep motivasi sendiri ialah dorongan dalam diri seseorang dalam menentukan atau melakukan tindakan. Jika seorang inidividu memiliki perilaku abnormal tentu hal tersebut berpengaruh pada konsep motivasi individu tersebut. Individu yang memiliki perilaku abnormalitas tidak dapat memenuhi tuntutan sosial yang ada di masyarakat dengan kata lain individu tersebut tidak dapat menyesuaikan dirinya. Dalam Hierarki Kebutuhan yang dikemukakan Abraham Maslow, idealnya manusia “sehat” memiliki kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, penghargaan, dan aktualisasi diri yang harus dipenuhi. Bagi orang yang “tidak sehat ” bisa saja konsep motivasinya jauh seperti yang diharapkan atau tidak seperti masyarakat pada umumnya.

Abnormalitas dan Stress
Seseorang yang mengalami abnormalitas dapat disebabkan oleh stress, dan sebaliknya stress dapat disebabkan oleh abnormalitas. Hal ini berkaitan dengan penyebab sosiokultural. Seseorang bisa saja mengalami abnormalitas, seperti fobia atau depresi karena sebelumnya mengalami stress yang berkepanjangan. Saat manusia dihadapkan pada tekanan dalam dirinya atau dihadapkan pada suatu tekanan dari lingkungan sosialnya dan tidak mampu mengatasi atau mengontrol dirinya, maka hal tersebut dapat mengakibatkan munculnya gangguan psikologis seperti depresi atau skizofrenia yang membuatnya di anggap abnormal oleh masyarakat. Sebaliknya, seseorang yang memang abnormal yang membuatnya tidak diterima di lingkungannya atau disisihkan menyebabkan ia mengalami stress dan pada akhirnya mungkin saja menambah dan memperparah abnormalitas orang tersebut. Contoh kasus yang sering ditemui dalam (abnormalitas –> stress) adalah pada orang-orang yang mengalami dismorfi (kecacatan) tubuh, sering kali orang normal “menatap” kepada orang yang mengalami dismorfi tubuh karena mereka “berbeda dengan orang umumnya”, sering kali “tatapan” orang lain diartikan oleh penderita dismorfi tubuh sebagai hal yang “mengintimidasi” dan dianggap sebagai stressor, dan umumnya hal ini berujung pada kecenderungan untuk memiliki Self-esteem yang rendah pada para penderita dismorfi tubuh.

Abnormalitas dan Gender
Perbedaan gender pada manusia telah membentuk satu pembeda antara masing-masing gender, baik secara biologis maupun kerena faktor tuntutan masyarakat.

Biologis
Gangguan biologis penyebab abnormalitas bisa karena gangguan congenital, gangguan kromoson (struktur genetika), paparan bahan-bahan kimia, dan penyebab biologis lain. Sifat dari gangguan ini adalah genetik yaitu merupakan gangguan yang dibawa oleh gen sejak lahir.
Pada beberapa kasus, abnormalitas memberi ciri pada proses genetik. Beberapa abnormalitas ini meliputi seluruh kromosom yang tidak terpisah dengan benar pada pasa pembelahan sel (fase miosis). Abnormalitas lain dihasilkan dengan adanya pewarisan gen yang abnormal atau adanya mutasi gen.
Kadang saat gamet dibentuk. Sperma dan sel telur tidak mempunyai rangkaian normal 23 pasang kormosom. Contoh yang paling jelas adalah sindrom down dan abnormalitas kromosom jenis kelamin.
Abnormalitas Yang Berhubungan dengan Kromosom

– Sindrom Down
Seseorang dengan sindrom down memiliki wajah yang bulat, tulang tengkorak yang datar, lipatan kulit ekstra diatas kelopak mata, lidah yang panjang, tangan dan kaki yang pendek, dan keterbelakangan dalam kemampuan mental dan motorik. Sindrom ini disebakan oleh adanya duplikasi ektra dari kromosom 21. Tidak diketahui mengapa kromosom ektra dapat muncul, tetapi kesehatan dari sperma laki-laki dan sel telur perempuan dapat terlibat.
Sindrom down muncul pada sekitar satu dalam setiap 700 kelahiran. Wanita antara usia 18 hingga 38 memiliki kemungknan yang kecil melahirkan bayi dengan sindrom down dibandingkan dengan waniya yang lebih muda atau yang lebih tua.

– Abnormalitas yang Berhubungan dengan Jenis Kelamin
Bayi yang baru lahir memiliki kromosm X dan Y, atau dua kromosom XY untuk laki-laki dan XX untuk perempuan. Embrio manusia haru memiliki setidaknya satu kromosom X untuk dapat tumbuh. Abnormalitas kromosom yang berhubungan dengan jenis kelamin yang paling umum melibatkan adanya kromosm ekstra (baik X atau Y) atau ketiadaan satu kromosom X pada perempuan.

– Sindrom Klinefelter
Sindrom klinefelter merupakan kelainan genetik di mana laki-laki memiliki kromosom X ektra, membuat mereka menjadi XXY dan bukan XY. Laki-laki dengan kelainan ini memiliki testis yang tidak berkembang, dan mereka biasanya memiliki dada yang besar dan tumbuh tinggi. Sindrom klinefelter terjadi sekitar satu dalam setiap 800 kelahiran hidup anak laki-laki.

– Sindrom Fragile X
Sindrom fragile X adalah kelainan genetic yang merupakan akibat dari abnormalitas dalam kromosom X, yang menjadi terhimpit dan sering pecah. Defesiensi mental sering menjadi konsekuensi tetapi defesiensi ini mungkin mengambil bentuk berupa keterbelakangan mental, gangguan belajar, atau rentang perhatian yang pendek. Kelainan ini lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan pada perempuan, kemungkinan pada kromosom X kedua pada perempuan dan menegasikan efek negative gangguan ini.

– Sindrom Turner
Sindrom turner adalah kelainan kromosom pada perempuan di mana sebuah kromosm X hilang dan menjadikan pemiliknya XO dan bukan XX, atau kromosom kedua terhapus sebagian. Perempuan dengan sindrom ini berpostur pendek dan mempunyai leher yang tersambung oleh membran kulit. Mereka dapat tidak subur dan mengalami kesulitan matematika, tetapi kemampuan verbal biasanya cukup baik. Sindrom turner terjadi kira-kira 1 dari setiap 2500 kelahiran.

– Sindrom XYY
Sindrom XYY merupakan kelainan kromosom dimana laki-laki memiliki kromosom Y ekstra. Ketertarikan awal pada sindrom ini terfokus pada keprcayaan bahwa kromosom Y esktra yang ditemukan pada beberapa laki-laki menyumbang terhadap perilaku agresi dan kekerasan. Meskipun demikian, peneliti kemudian menemukan bahwa laki-laki XYY tidak lebih mungkin melakukan kejahatan daripada laki-laki XY. Laki-laki dengan gen XYY merupakan manusia super logika, yaitu lebih mengedepankan logika dibanding laki-laki ber gen XY.

Sosiokultural
Selain itu faktor sosiokultural juga menentukan siapa individu dalam suatu kelompok gender yang merupakan pribadi yang abnormal. Perilaku seksual dianggap normal apabila sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat dan dianggap abnormal apabila menyimpang dari kebiasaan yang ada di masyarakat. Salah satu contohnya adalah sifat Maskulinisme yang melekat pada pria dimana pria diharapkan oleh masyarakat untuk dapat berbuat agresif, untuk bersaing dan sebagai pemimpin, sehingga untuk pria yang menolak untuk memenuhi tuntutan masyarakat biasanya akan dikucilkan. Atau sifat Feminim dituntutkan oleh masyarakat pada wanita untuk bersikap lemah lembut, dan sanksi pengucilan jika menolaknya. Maskulin dan feminim bukan saja ditentukan oleh sikap melainkan juga dengan pakaian, pilihan pekerjaan, hobi, kelompok sosial, dan yang paling sering dipermasalahkan adalah orientasi seksual yaitu dimana terdapat berbagai kelompok (Lesbian, Homoseksual, Biseksual, Aseksual, dan beragam kelompok diluar kelompok orang yang memiliki orientasi seks yang normal). Namun karena perbedaan budaya di beragam tempat maka status abnormal seseorang tergantung pada dimana orang tersebut tinggal.

Sumber :
Halgin P Richard dan Susan Krauss Whitbourne. 2011. Psikologi Abnormal edisi 6, buku 1. Jakarta : Salemba Humanika.
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/psikologi_umum2/bab8_abnormalitas.pdf


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: