My Novel – Amon Sael the Otherside of Me

Sherav sair thovus ghanis jul sthear
( kadang kita berpikir dunia hanya satu)

Kadangkala hidup susah dimengerti, terkadang kita berpikir bahwa kehidupan hanya ada satu yaitu dunia yang kita tempati, tetapi di luar sana terbentang luas hal-hal yang tidak dimengerti oleh manusia, tetapi kekuatan tuhan kami, kekuatan tuhan semesta alam yang merajai semua hal di semua dunia, yaitu Allah SWT ialah tuhan yang kami sembah karena ia berikan kami kekuatan dan sebagai balas budinya kami bersumpah sebagai makhluk ciptaannya kami akan selalu tunduk padanya. Allah memisahkan dunia kami semua agar kami tidak saling berseteru antara satu dengan lainnya, ia mengetahui bahwa dengan kelemahan para penghuni kedua dunia, setan akan mudah mempengaruhi penghuni kedua dunia tersebut dan membuat kekacauan. Manusia dengan ketidak puasannya akan menekan kami untuk bekerja untuk mereka, dan kami makhluk yang memiliki kekuatan lebih akan melawan dan menindas manusia menjadi abu dan batu, yang kemudian kami ambil untuk membangun dunia yang baru. Karena itulah Allah merupakan yang paling bijak dari semua. HAIL TO ALLAH , tetapi seiring jalannya waktu entah mengapa Allah mulai menyatukan kedua dunia tersebut, contohnya adalah aku….

Voir ahm surair
( JALAN HIDUPKU )

Aku hanyalah manusia biasa tetapi aku tumbuh dengan hal yang tidak biasa. Sebagian anak pada umurku mungkin senang bermain dengan temannya tetapi aku berbeda di saat anak anak lain berkumpul aku lebih sering menyendiri dengan hal hal aneh yang hanya aku sendiri yang mengetahui. Aku sering mendengar mereka berbisik, mengabarkanku tentang apa yang aku tidak ketahui. Aku sering di anggap aneh oleh teman temanku dan jika aku mengatakan hal-hal tentang dunia itu mereka hanya memandangku dengan pandangan aneh. Akupun sering menghindar dari teman temanku untuk mencari hal yang aku sebut aura. Aku memang bukan jenius yang selalu mendapatkan nilai tinggi. Aku malah sering mendapatkan nilai buruk karena sering memikirkan hal-hal diluar akal manusia normal dan mengesampingkan pelajaran.

Aku tidak tahu apa yang terjadi tetapi aku bingung setiap kali aku menatap seseorang aku selalu memikirkan seseorang dari tempat lain di bumi yang aku tidak ketahui tetapi satu hal yang aku ingat yaitu orang lain yang aku pikirkan selalu bertempat di suatu kota batu yang sangat besar yang aku kira pikiran itu datang dari masa lampau. Dalam arti lain aku memikirkan leluhur mereka. Hal lain yang tidak aku mengerti adalah mengapa aku dapat berinteraksi dengan binatang, aku tidak langsung berbicara dengan mereka tetapi aku merasakan apa yang mereka rasakan, cara itu aku sebut (emotional contact) atau kontak emosi, tetapi seiring waktu akupun dapat melakukan emotional contact pada manusia. Aku masih mencari tahu dari mana datangnya kekuatan ini.

Saat ini aku menginjak tahap pendidikan SMA di SMAN 1 Tambun Selatan, aku menemui beberapa teman yang berbeda ada beberapa diantara mereka yang dapat melihat makhluk ghaib dan menyebut diri mereka anak indigo tetapi aku hanya memaklumi karena aku lebih tahu dari mereka karena aku keturunan campuran. Orang tuaku memang sepenuhnya manusia tetapi ruhku setengah manusia setengah raivra, tetapi aku menyukai ruh raivra-ku karena aku memiliki banyak bentuk kehidupan dari ruh raivra-ku. Kekuatan ada karena kelemahan, aku tidak bisa mengubah bentuk kehidupanku disaat aku hidup di dunia manusia tetapi jika aku mati aku akan hidup di dunia raivra. Di bumi aku tidak menggunakan kekuatanku secara penuh tetapi tetap saja aku tidak bisa melupakan kekuatanku begitu saja aku pernah menghadapi beberapa kasus, dari kasus pencurian uang temanku di kelas sampai hilangnya handphoneku di kelas dan pencurinya membuat skenario bahwa handphone itu jatuh dan ditemukan seseorang dan dibawa ke kota Malang. Aku hanya bersandiwara dan berpura-pura mencari siapa pelakunya sebenarnya aku telah mengetahui siapa pelakunya tetapi aku hanya akan menunggu dia mengembalikan handphoneku, meminta maaf, ataupun mengakui kesalahannya dan apabila tidak ya aku biarkan saja karena aku telah mengetahui hukum akhirat ALLAH, semua dicantumkan di hukum tertulis bangsa raivra. Kukira cukup perkenalannya, maaf aku lupa memperkenalkan nama. Hai namaku Albi, Albi Samjaya tepatnya. Itu adalah nama manusiaku nama raivraku adalah Amon Sael.

Ranth il Semaith Thanorth Horvt
( Melodi dari tujuh leluhur kematian)

Kamis, 16 April 2009

Pagi itu setelah aku shalat subuh aku termenung, mengingat akan mimpi yang aku alami. Mimpiku memang aneh, aku bermimpi aku berdoa di atas makam leluhur raivraku, yaitu sebuah tempat yang tenang di langit keempat dimana aku dilahirkan lalu diturunkan ke bumi sebagai ruh. Tempat itu sangat sunyi ditengah pilar-pilar putih tinggi reruntuhan tak beratap ,dengan awan mendung yang menggantung sepanjang tahun yang tetapi hujannya hanya turun sebulan sekali. Saking sunyinya tempat itu bahkan angin pun enggan bersenandung hanya ada rerumputan pendek yang melambai yang menjadi penghuni bisu tempat itu, tempat yang di sebut lembah jiwa gelap yang tenang. Di dalam mimpiku lalu aku mendengar suara dua ekor kucing yang aku kenal yaitu roben dan cemong, keduanya memang kucingku tetapi roben telah meninggal beberapa saat yang lalu karena diracuni orang lain. Pikiranku beringsut-ingsut memikirkan hal itu hingga tiba-tiba suara ibu mengejutkanku dari lamunanku, ternyata lamunanku membuatku lupa waktu. Akupun bersiap dan berangkat ke sekolah seperti hari-hari biasanya.

Sesampainya di sekolah aku bergegas menuju kelas, disaat aku hendak masuk ke dalam kelas aku merasakan aura aneh di dalam kelas. Aku sedikit menghela nafas dan merasakan aura sekeliling, hhmmph ada kejanggalan dalam kelas, hari itu kujalani dengan biasa. Setelah semua siswa telah pulang aku masuk ke dalam kelas, walaupun aku harus mengakali kunci pintu dengan kawat tetapi aku tetap bisa masuk ke dalam kelas. Dengan sedikit kekuatan raivraku aku mencoba mencari apa yang membuat aura di kelas ini berbeda dari sebelumnya. Setelah beberapa saat mencari akupun menemukan pin mawar putih lalu kulihat keluar jendela, seperti yang kukira ada quick shiver tengah berdiri di tengah halaman belakang sekolah. Akupun bergegas menutup dan mengunci pintu kelas lalu menuju halaman belakang sekolah dan menemui quick shiver itu. Akupun meneliti quick shiver itu. “ hmm, tali pengikat merah dan pita hitam, pasti milik master “. Akupun memasangkan pin mawar putih yang ku temukan di kelas pada rambutnya. “ narh, thu satr rhvts durh zair dsets ? ” ( nah, jadi pesan apa yang kau bawa ? ). Quick shiver itupun memberikan sepucuk surat bercapkan tanda klan sael, lalu mengecup pipiku dan melesat hilang. “ Weqh, mengapa setiap quick shiver akan pergi harus selalu mengecup pipi ! “. Akupun pulang sebelum ada yang menyadari. Sesampainya di rumah akupun membuka dan membaca surat itu. Ternyata tulisannya menggunakan bahasa raivra kuno. Terpaksa aku harus mengunjungi dunia raivra. Pada malam harinya aku pun mengunjungi dunia raivra. Cara mengunjungi dunia raivra sangatlah mudah, tinggal sebutkan ‘Dvuorair thurh fhirs‘ yang artinya ‘mimpiku menjadi kenyataan’. Dunia raivra tidak dapat dikunjungi sembarang makhluk,karena ALLAH membuat pembatas tipis yang maha dahsyat kekuatannya.

Beberapa saat kemudian akupun tertidur pulas dan terbangun di depan kuil Ahm Ethes, di atas punggung gunung Sassael. Penampilanku saat menjadi manusia dan penampilanku saat menjadi raivra sangatlah berbeda ,saat menjadi raivra rambutku akan memutih dan sayapku akan terkembang begitupun rupaku. Akupun segera membentangkan sayap dan terbang ke kediaman masterku di lembah duri bermawar. Sebuah tempat terisolasi diantara pegunungan ravien sassael yang selalu teduh dikelilingi awan mendung, dengan arsitektur bangunan yang mayoritas berlantai dua dan bercatkan putih serta pagar tanaman duri bermawar pada setiap rumah. Di dataran yang lebih tinggi terdapat puri atau rumah kediaman masterku, sebuah puri berukuran agak besar dan di halamannya terdapat pohon revt dunh yang memiliki buah berwarna merah hati yang memiliki wangi manis menggoda dan berbuah setiap tahunnya. Dibelakangnya terdapat lembah jiwa gelap yang tenang dengan mouselium sakral serta pilar-pilar putih tinggi yang terpancang disekelilingnya dan dihadapan puri itu terdapat ladang yang luas dimana anak-anak kecil raivra bermain menangkap wisp atau cahaya hutan. Sesampainya di rumah masterku aku disambut ceria oleh anak masterku yaitu Rhanve Sael Marcreville dia seperti sudara bagiku. Rhanve adalah anak kedua master, anak pertamanya sedang dalam pendidikan ilmu berperang dan kemampuan sihir di kota Heleaven, Rhanve adalah seorang gadis periang atau dapaat dibilang sedikit tomboy. Ia adalah berambut pendek putih dan selalu mengenakan bando laba-laba. “Vharo sul Amon” (hai,amon apa kabar?) dia menyapaku dengan keceriaan. “Sheth duf, shu ner nund dathzair ?” (baik,jadi di mana ayahmu?) balasku dengan penuh keceriaan pula. “Hfuuh, runthvus junth vef ner cvirst thanorth” (hfuuh, makhluk tua itu ada di mouselium leluhur) jawabnya dan ia pun segera berlari keluar rumah. “Vher, zair svut ren nund? Shu zair hivl lhivwer nud ziar?” (Hei, kamu mau pergi kemana? Jadi apakah kamu masih berhubungan dengannya?). “Rhundavus amon, ziar rud nethev sath” (tentu saja dia, amon! Ia itu sangat menawan). “ha…ha…ha…nit durh air suvl” (ha…ha…ha…seperti yang ku duga). “Nheru tav amon, air jul nithu zair ratz” (sudahlah amon, aku harus menemuinya sekarang). “Ith nourt coutl” (baiklah kalau begitu). Rhanve pun melanjutkan langkahnya. Saatnya ke mouselium leluhur, tetapi angin apa yang membuat master pergi ke mouselium leluhur. Biasanya ia hanya menghabiskan waktunya di perpustakaan rumahnya. Akupun melanjutkan langkah menuju mouselium leluhur yang terletak di lembah jiwa gelap yang tenang, yang tepatnya berada di belakang kediaman master. Setelah sampai di gerbang mouselium. Kurasakan aura mati memenuhi tempat ini. Akupun menghela nafas memandang pintu besar dihadapan . Akupun melangkah masuk ke mouselium tersebut, tetapi aku tidak mendapati master di dalam mouselium tersebut. Karena rasa penasaran akupun meneliti mouselium tersebut. Di dalam mouselium tersebut terdapat enam patung iblis dan satu patung malaikat, dengan rasa penasaran akupun meneliti patung malaikat tersebut. Di depan patung tersebut terdapat altar yang ditengahnya terdapat kolam kecil dengan cetak tangan di dasarnya. Akupun mencocokan cetak tangan itu dengan tanganku. Tiba-tiba air di kolam itu membeku dan membuat tanganku tersangkut. Aku tidak dapat melepaskan tanganku dari air yang membeku tersebut, lalu terdengarlah suara-suara aneh dari keenam patung iblis yang mengelilingi ruangan. Suara-suara yang terdengar seperti enam sumpah iblis dalam bahasa raivra kuno. Suara-suara itu membuat pikiranku tersayat-sayat. Kemudian tanpa kusadari keenam patung iblis tersebut maju mendekati dan mengelilingiku, pada akhir sumpah mereka, keenam patung iblispun bersiap dengan senjata-senjata mereka dua patung iblis melingkarkan sabit di leherku, dua patung yang lain bersiap menghunus tubuhku degan pedang dan sisanya bersiap untuk menghantam kepalaku dengan gada berduri. Akupun putus asa akan keadaanku, tetapi hal yang menakjubkan terjadi. Sesaat sebelum senjata para patung iblis menghantamku , patung malaikat yang berada di depanku bersinar sangat terang sehingga menyilaukan mataku. Akupun jatuh pingsan. Setelah beberapa saat akupun terbangun di puncak gunung sassael, tempat itu terlihat seperti meja batu tempat berkumpul para tetua. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara master yang bertanya padaku. “Apa kabar Amon”. “Master, anda bisa berbahasa manusia”. “Ini berkat buku yang kamu tinggalkan Amon. Lagipula bahasa manusiaku belum begitu lancar”. “Ith, sair zer vurthus raivra deth” (baiklah, kita gunakan bahasa raivra saja). “Nurh Amon, rhvts zair xith rundhavusair ethrvazair bidh?” (jadi Amon, apa kamu tahu alasanku membawamu kesini). “rhvts sahr poivturt dvuorair” (apa ini tentang mimpiku). “anuth Amon” (tepat sekali Amon). “Nurh arath, rhvts girth rorhm dvuorair” (jadi master, apa arti dari mimpiku). “Taragh zair, roben sur nyvt adnoth, ilh cemong adnoth nyvt sur. Vair narch soarh” (pelindungmu, roben kehidupan yang mati, dan cemong kematian yang hidup. Mereka akan pergi). “rhvts gyairthair arath?” (apa maksudmu master?). “svut tven guvart ner nund urath thanorth” (pergi ke tempat dimana para leluhurmu). “adnoth?!!” (mati?!!). “hhmmmph….” Master hanya menghela nafas panjang, pertanda jawaban ya. Setelah beberapa saat merenungi, masterpun datang menghampiriku dan menyerahkan sebuah bola kristal. Sesaat aku ingin bertanya kepadanya tentang yang terjadi di mouselium, tetapi master langsung meletakkan telunjuknya di bibirku dan membisikkan mantra “dvuorishzair hammirsh” (mimpi burukmu berakhir).

Sesaat ku beteriak tetapi awan kelabu telah menjadi keemasan, mengantarkanku langsung ke dunia manusia. Ku terbangun dengan memeluk bola kristal yang diberikan masterku. Ketika seseorang mengetuk pintu akupun segera menyembunyikan bola kristal itu di bawah tempat tidurku. Ternyata itu ibuku yang mengingatkanku untuk beribadah. Akupun bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu dan mencuci muka. Sesampainya di kamar mandi aku terdiam sejenak dan merenungi yang terjadi di mouselium leluhur. “Hmmm…..BOLA KRISTAL!”. Akupun teringat akan bola kristal itu, dan segera menyudahi mencuci muka.

Sesampainya di kamar akupun segera meneliti bola kristal itu, tetapi anehnya tidak ada yang aneh dengan bola kristal itu, di sekeliling bola Kristal tersebut berhiaskan tulisan huruf raivra kuno, mungkin mantra-mantra pengunci. Karena bingung, akupun langsung mengembalikan bola kristal itu ke bawah tempat tidurku. Kulihat jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Aku harus bergegas pergi ke sekolah. Hhhmmph…. satu hari lagi di sekolah. Hari ini aku agak sedikit terlambat, tetapi untungnya aku dapat mengakalinya. Dengan sedikit mantra kursi ninabobo. “husha husha lullaby boo”. Dengan mantra itu guru yang akan datang pada jam pertama akan merasa nyaman di kursinya dan akan datang lebih telat. Hahahaha…. Raivra juga suka usil lho.

Jam pelajaran pun dimulai. Beberapa jam dapat ku lalui dengan mudah karena tidak ada ulangan hari ini. Saat istirahat aku duduk diam di kursi ku untuk sekedar menenangkan diri dan meregangkan otot-otot dan pikiranku tetapi suatu keanehan terjadi, ada sekilas cahaya yang lewat berkelebat dan sebentar terdiam di sudut atas ruangan. Cahaya itu memang telah mengikutiku akhir-akhir ini. Mungkinkah itu malaikat atau sesuatu yang lain, aku pernah melihat beberapa malaikat tetapi yang ini berbeda, tidak seperti malaikat yang menjaga bayi di ranjangnya, ataupun malaikat yang meneduhkan jalan para pelajar, dan para pengembara. Akupun bangkit dari kursi ku untuk mendekati cahaya tersebut tetapi cahaya tersebut kembali berkelebat dan hilang bersembunyi di terangnya cahaya matahari. “HWAAaaaaa…..HH….” hari yang sungguh melelahkan. Beberapa saat bel masuk pun berbunyi dan para murid kembali ke kelasnya masing-masing untuk menerima pengajaran yang selanjutnya. Setelah beberapa menit kedepan kusadari cahaya aneh itu kembali mengawasiku dari pojok atas ruangan kelas. Bel panjang pun berbunyi pertanda berakhirnya kelas untuk hari ini.

Akupun meringankan langkahku menuju rumah hari ini, tetapi sesampainya di rumah barulah kusadari cahaya itu masih mengikutiku. Akupun berpikir sejenak untuk mengabaikannya lagipula cahaya itu tidak menggangguku jadi buat apa ku permasalahkan. Sesaat kemudian aku teringat dengan bola kristal yang diberikan master. Kemudian aku pun langsung mengambil mengambil bola kristal yang kusimpan dibawah tempat tidurku. Kali ini kucoba membaca tulisan pada bola kristal itu.”Arh siath air rivats, arh adnoth air naits, air sandh nearth zair il monath khroashimon” (dalam kesedihan ku bersenandung, dalam kematian ku beristirahat, aku akan menunggumu di ujung perjalananmu). Suasana menjadi hening, waktupun berhenti berjalan. Saat itu bola kristal yang ku genggam memancarkan cahaya yang sangat terang. Akupun mencoba menghalangi cahaya yang menyilaukan mataku. Sesaat kemudian pijakan kakiku terasa ringan dan jiwaku terasa terbebaskan. Kusadari aku tengah berada di langit ke-enam. Cahaya keemasan memenuhi negri di atas awan. Angin lembut bertiup pelan membuai diriku. Mengantarkan ku ke bumi tempat ruh manusiaku bersemayam. Beberapa saat aku merasa sangat bingung akan apa yang terjadi. Dengan sedikit terhuyung aku menuju ke kamar mandi yang terletak agak jauh dari kamarku untuk mencuci muka untuk menyegarkan pikiranku sesaat ku melihat ke arah cermin aku terkejut bukan kepalang. Sayapku tampak terlihat ! akupun secepatnya segera bergegas menutup pintu kamar mandi supaya tidak ada yang melihatku dengan sayap ini. Akupun semakin bingung bagaimana aku bisa bepergian dengan sayap ini dipunggungku. Jika ada orang yang memergoki ku dengan sayap ini pasti aku akan berakhir di tangan para wartawan dan paparazzi atau akan di munculkan pada acara ripleys believe it or not. Dengan rasa cemas dan was-was yang berlebihan aku tidak akan dapat berpikir jernih untuk memecahkan masalah ini. Akupun mencoba untuk menenangkan pikiran dan fwala… akupun mencoba mengatupkan sayapku ke bagian depan tubuhku dan kemudian menutupnya dengan handuk. Akupun berjalan berjingkat kembali ke kamar tetapi di ruang tengah aku berpapasan dengan ibu, ibupun menatapku dengan pandangan curiga. Karena aku biasanya setelah mandi hanya menggunakan handuk pendek yang dililitkan di sekitar pinggang saja untuk menutupi aurat, tapi kali ini aku mengenakan handuk sepunggung, berpakaian lengkap pula. Tetapi sialnya adikku yang super jahil datang dan langsung menarik handuk itu dan whuush… handukpun terlepas dari peganganku. Karena takut ketahuan akupun meringkuk di lantai dan adikku pun tertawa “ha…ha…ha… apa yang kakak lakukan, meringkuk di lantai begitu seperti tikus yang sedang sekarat”. Akupun bingung mendengarkan respons dari adikku. Akupun langsung berdiri dan menjewer telinga adikku. “aw..aw..aw.. sakit”. Sedangkan ibu yang dari tadi hanya menggelengkan kepala dengan raut wajah yang memaklumi kekonyolan anak-anaknya. Akupun segera menuju kamarku. Dengan rasa penasaran kuraba punggungku dan whoops… sayap itu nampak lagi. Well, akupun merumuskan bahwa sayapku hanya aku, sang maha tahu(ALLAH), dan para bala tentara langit yang dapat melihat sayapku ini. Dengan hati yang tulus dan penuh rasa terima kasih akupun langsung melakukan sujud syukur kepada ALLAH subhanahuwata’ala.

Setelah merumuskan suatu masalah barulah pikiranku akan tenang. Hari-hari selanjutnya akupun mulai terbiasa dengan sayapku ini. Sampai pada suatu ketika ada seorang anak baru yang pindah ke sekolahku. Ia ditempatkan di kelasku ini kelas yang paling ramai dan mayoritas murid penghuni kelasnya terkenal bersifat seperti kaum barbar, walaupun begitu kekompakan kami tidak dapat ditandingi oleh kelas manapun. Itulah kelas kami, kelas X2 “the family of future mafia”. Sebagai murid baru seperti biasa ia harus memperkenalkan diri di depan kelas. Dia adalah seorang perempuan bertubuh sedang dan berperawakan langsing, kulitnya yang putih bersih beserta paras wajah yang polos membuat ia terlihat childish, apalagi rambutnya yang hitam panjang dengan kunciran bergambar kucing yang membuat dia tampak imut. Sesaat ia mau menyebutkan namanya seluruh murid terdiam, kelas yang tadinya sangat ramaipun berubah menjadi sunyi. Ia pun mulai memperkenalkan diri.” Nama saya Sish Nirnai, saya tinggal di desa mekarsari di sekitar stasiun kereta tambun “. Belum selesai memperkenalkan diri ada seorang murid yang nyeletuk berbicara. “namalu kocak kayak suara ular. Shiiissss…….ssssh”. murid yang lain pun menanggapi “ wah garing tuh lawakannya, mau tau nggak apa yang nggak garing ?”. “apaan” “maliii…..iing”(sambil menunjuk teman sebelahnya) spontan semua murid laki-lakipun melempari orang yang di tunjuk dengan gumpalan kertas dan botol air mineral yang kosong. Gelak tawa pun pecah di dalam kelas. Dapat kulihat ekspresi wajah murid baru itupun berubah tersinggung. Dengan pecahnya gelak tawa itu berakhirlah sesi perkenalan dia hari itu. Iapun menempati tempat duduk di sisi kelas tempat para perempuan berkumpul, meskipun kelas kami tergolong kelas yang ribut tetapi soal agama pasti di pegang teguh. Karena itulah wilayah tempat duduk dibagi menjadi dua bagian.

Well dua jam pelajaran telah dilewati, jam selanjutnya adalah jam istirahat. Bel pun berdering dan sebagian besar murid keluar kelas. Saat itu anak baru itu berada sendirian di dalam kelas, ia sedang merapikan bukunya ke dalam tas. Akupun mendekatinya untuk berkenalan. “Hai namaku Albi”. “Hai Albi senang berkenalan denganmu, namaku Sish”. “Sish, nama yang bagus”. Iapun membalasnya dengan senyuman, kami sedikit berbincang tentang hal-hal ringan. Saat itu pula ada seorang anak penggosip masuk dan mencemoohku. “ciee…..ngedeketin anak baru nih yee”. Kami hanya tertawa ringan menghadapinya. Setelah istirahat berakhir masih ada dua jam pelajaran lagi yaitu pelajaran bimbingan dan konseling. Saat itu guru pengajar tidak masuk sehingga kami hanya diberi tugas untuk membuat kelompok untuk membahas pergaulan di kalangan remaja. Saat itu kelompok di pilih secara perorangan. Semua murid telah mendapatkan kelompok kecuali Sish si anak baru itu. Akupun mengajaknya bergabung di kelompokku. Seperti biasa kelompokku terdiri dari empat orang yaitu Levi si cenayang, Dani si penggemar kartun, Arden si aneh, dan aku kali ini di tambah Sish si anak baru. Seperti biasa materi tugas pasti akan dicari melalui internet baik google maupun wikipedia lalu di jadikan power point. Setelah membagi tugas masing-masing kamipun mengobrol kesana kesini dengan tema yang luntang lantung. Saat salah satu anggota diantara kami ada yang membuka topik tentang hal-hal yang menyangkut spiritual akupun ikut nimbrung. Awalnya Levi bercerita tentang pengalamannya melihat hantu. “tadinya ku kira itu seorang anak perempuan yang menangis di depan rumahku, tetapi setelah ku dekati ia malah pergi melayang dan bersembunyi di atap rumahku, spontan akupun berteriak ketakutan.” “Hahahahaha….tak kusangka sang paranormalpun dapat dibuatnya ketakutan” ledek Dani. “weeh…..paranormal juga manusia” jawab Levi dengan wajah cemberutnya yang unik. “Lagian kamu Lev, paranormal kok membuka aib sendiri sih” timpal Arden. “Kamu lagi Den bukannya membantu malah ikut meledekku” tanggap Levi sambil membuang muka. Beberapa saat suasana hening. “lho kok sepi sih”. “iya nih masa sepi begini sih”. “ada yang buka topik baru lagi dong biar nggak bosan”, “ya sudah biar aku saja yang membuka topik” jawabku. “kira-kira ada nggak ya dunia yang lain selain dunia yang kita tempati ini”. “Ada, dunia arwah dan siluman” jawab Dani. “Huuuh…..memangnya di kartun anime, kita lagi membahas hal yang real bukan fantasi” balas Levi. “tapi apa itu yang real jika kita tidak mengetahui sebenarnya yang mana itu yang real” timpal Dani. “yang pasti bukan di kartun” jawab Levi tak mau kalah. “Ya ampun, ini orang dua kalau bertemu pasti ribut, hati-hati lho dari perasaan benci bisa berubah jadi perasaan cinta….” Ledek Arden. “sudah, diam” jawab Dani dan Levi bersamaan. “tuh kan apa yang aku katakan, menjawabnya saja bersamaan”. “ARDEN…..” Levi dan Dani pun menjitak Arden. “Aduh, kalau marah jangan main fisik dong” jawab Arden tidak terima dengan perlakuan Levi dan Dani. “Habisnya kamu lagi berantem eh malah di gangguin” jawab Levi. “Ya sudah nanti kalau berantem lagi nggak aku gangguin deh, biar mesra berantemnya” ledeknya lagi. “ARDEN…..” merekapun melanjutkan perkelahian mereka bertiga. Sish yang dari tadi menonton hanya tertawa cekikikan melihat tingkah polah teman-temannya. “well, jadi kapan kita akan mengerjakan tugas ini” Tanya Sish memecah keributan yang tengah terjadi, “hmmm, bagaimana kalau seperti biasa dirumah kamu Lev” jawab Arden, “Apa !? seenaknya saja kamu den, lagipula beberapa minggu kedepan keluarga besarku akan datang dan pasti rumahku akan sangat ramai.” “hmmm…..bagaimana kalau dirumah Dani, selama ini tugas kelompok tidak pernah di dilakukan dirumahmu dan, hmm.. apa jangan-jangan kamu menyimpan suatu rahasia atau hal yang memalukan” kata Levi dengan menyeringai ke arah Dani. “eh…tidak-tidak aku tidak menyembunyikan apa-apa…” jawabnya gugup, “baiklah kalau begitu mengerjakan tugas dilakukan di rumah Dani” kata Levi mengumumkannya “eh…tapi…tapi…” kata Dani gugup “apa ada yang kau sembunyikan…” seringai Levi “tidak baiklah kalau begitu” jawab Dani dengan raut muka khawatir. Levipun tertawa dengan seringai yang menyeramkan diwajahnya. Beberapa saat kemudian bel sekolah berbunyi. Semua muridpun pulang kerumahnya masing-masing.

Keesokan harinya kamipun berkumpul dirumah Dani seperti yang telah ditentukan sesampainya disana kamipun mulai mencari bahan tugas dari situs wikipedia. Sambil mencari kamipun bercakap-cakap “Wah ternyata rumah kamu Dan” kata Arden. “Ya memang seperti inilah setiap harinya” jawab Dani. “Memangnya kemana orangtuamu” tanya Levi. “Mereka sedang bekerja” jawab Dani. “Di hari libur seperti ini”, “itulah mereka, tak pernah merasa puas dengan pekerjaannya”. “Wah sayang sekali ya” kata Levi sambil mengotak-atik segala hal di kamar Dani. “Wah mungkin perkiraanku terhadapmu sangat menyimpang jauh” ungkap Levi. “Haeh, memangnya orang seperti apa aku ini menurut perkiraanmu !?” jawab Dani dengan nada sedikit kesal dan gugup. “Aku kira kamu adalah seorang yang kekanak-kanakan dan merasa senang dengan dunianya sendiri” kata Levi sambil meneliti isi laci meja. “apa ?!”, “ya aku juga sering membayangkanmu tidur mengenakan piyama anak-anak sambil memeluk boneka beruang”, “apa, aku bukan orang yang seperti itu”, “tak kusangka ternyata Dani memiliki sifat kedewasaan”, “Tentu saja”, Levipun membuka lemari dan tiba-tiba. “AAAAaaaaaa…………” setumpuk boneka jatuh menimpa Levi. “DANI………..”, “aku bisa menjelaskannya”, “jelaskan hal ini kalau begitu”, “well, sebenarnya aku sering merasa kesepian di rumah, jadi aku menyimpan boneka-boneka itu untuk menemaniku bermain”, “ternyata perkiraanku salah……dan….”, “tolong jangan ceritakan hal ini pada siapapun”, “hmm…… tidak mungkin kuceritakan hal ini pada siapapun”, “sungguh?”, “tentu saja kita semua kan teman tidak bagus membongkar kejelekan teman sendiri kepada orang lain” jawab Levi. “mmm…Levi…apa kamu masih…… sadar ?” tanya Arden dengan rasa aneh. “tentu saja, film yang kusaksikan di rumah tadi banyak memberiku pelajaran penting” jawab Levi. “OoO…..ternyata itu yang membuat teman kita ini berubah 180 derajat” jawabku.

Kamipun melanjutkan perbincangan, setelah tugas selesai Sish yang dari tadi mengerjakan itupun meminta izin pada kami untuk menggunakan internet untuk browsing. “ya sudah jika kamu ingin menggunakan internet gunakan saja” jawab Dani, “Oh ya… ngomong-ngomong apa yang kamu cari di internet”tanya Levi. “Umm…. arsip sejarah”, “sejarah apa ?” tanya Arden. “Umm…sebenarnya ini bisa dibilang mitos-mitos peradaban yang punah”, “Hey, apa aku boleh ikut melihat ?” Tanya Levi, “tentu saja”, kami semua pun berkumpul untuk melihat. Halaman perhalaman tentang mitos disusuri hingga mata kami tertuju pada satu hal di deret kategori benda-benda mitos. ‘Air mata malaikat’. Disitu tertera keterangan benda itu, air mata malaikat adalah sebuah kristal yang merupakan pewujudan dari harapan yang sekarat, benda ini muncul pada sejarah peradaban sumeria yang terpahat pada batu suci bumi tertulis bahwa ‘malam itu raja diraja terdiam sendiri di atap menatap langit luas dan benda berkelip yang melesat diantara bintang-bintang pada malam itu, dipagi hari raja bercerita bahwa ia melihat air mata malaikat tadi malam’ , dan menurut beberapa arsip yang ditemukan para peneliti di tulisan yang tertulis pada papyrus peninggalan bangsa mesir kuno ditemukan sebuah pernyataan ‘dan fir’aun Setyhah menangis saat air mata malaikat turun dari langit, dan angin pun mengantarkannya ke tidur abadinya’ selain itupun air mata malaikat ditemukan pada sejarah kaum nomadic Jerman, ‘pada malam itu batu bercahaya turun dari langit yang lebih tinggi dari tanah suci Valhalla dan para pengejar mimpi terdiam dan menengadahkan kepala mereka dan menyebut batu berkilau itu air mata malaikat’ namun hanya sedikit informasi yang dapat diketahui dari air mata malaikat karena dari arsip yang ditemukan umur air mata malaikat dapat diperkirakan sekitar 12.000tahun. satu scroll kebawah dan halaman berakhir dengan ilustrasi air mata malaikat, akupun tercengang terdiam melihat ilustrasi itu karena ilustrasi air mata malaikat yang tertera di internet sangat mirip dengan bola kristal yang diberikan oleh master, walaupun pada ilustrasi digambarkan dengan gambaran papyrus tetapi guratan-guratan yang terdapat pada sabuk emas yang mengelilingi bola kristal yang diberikan master sangatlah mirip.

“bagaimana mungkin?”. Teman-temankupun menatapku dengan tatapan curiga. “apa yang tidak mungkin, Albi?”. “Ah bukan… bukan sesuatu yang penting yang harus diketahui ?”. Tatapan mereka semakin tajam terhadapku. “Baiklah mungkin kalin tidak akan percaya tapi, aku mempunyai benda itu”. “Apa!?”. “Itu tidak mungkin” kata Arden dengan wajah bingung. “sudahlah, tidak usah mengada-ada” kata Dani. Aku hanya mengambil nafas panjang mengetahui jawaban dari temanku. “tunggu dulu sepertinya ia berkata sebenarnya” jawab Levi. “berkata sebenarnya ? bahwa ia memiliki benda itu? Itu sulit dipercaya” jawab Dani. “perkataan seseorang mungkin dapat menipumu, tetapi ekspresi wajah mereka selalu memberitahukan hal yang sebenarnya” jawab Levi. “jadi menurutmu?”. “dia jujur”.”apa tapi….”. suasana menjadi hening. “baiklah hanya ada satu cara membuktikannya…., Albi bisakah kau menunjukkan benda itu ?” pinta Arden. “baiklah tapi tidak bisa sekarang karena aku meninggalkannya di rumah”. “bagaimana kalau besok di sekolah?” tanya Dani. “Jangan, membawa benda itu ke sekolah terlalu beresiko” jawab Levi. “Baiklah kalau begitu dimana?” tanya Dani. “Bagaimana kalau dirumahku” kata Sish. “Di rumahmu ?” tanya Arden bingung. “Saat liburan” jawab Sish. “Setuju” jawabku. Setelah disepakati kamipun melanjutkan tugas kami dan melanjutkan kehidupan kami sebagai pelajar, menunggu libur panjang yang akan dimulai beberapa hari lagi.

Suatu malam aku menyebrang ke dunia Raivra. Aku terbangun di depan rumah masterku tapi tidak seperti biasanya, seekor makhluk dengan bentuk Pegasus atau kuda terbang dengan tali kekang dan pelana emas terikat di pohon di halaman rumah masterku beserta sebuah tombak emas tersandar pada pohon tersebut. Akupun melihat sekeliling , desa kecil di kaki gunung sassael itu berbeda seperti biasanya . Tak ada seorangpun yang menampakkan dirinya saat itu, bahkan anak-anak yang biasa bermain mengejar wisp di pinggir hutan Soneil yang berada di seberang kediaman master. Situasi pun membuatku berjalan mendekati pintu rumah kediaman masterku. Ketika aku akan menggenggam gagang pintu seseorang membuka pintu itu dari dalam, ternyata master yang membuka pintu itu. Entah mengapa wajahnya terlihat sangat gelisah “Amon Sael, lezir nevri giznah” (Amon Sael cepat masuk….). Ketika ku masuk ke dalam rumah master dapat terlihat beberapa orang berdebat sengit dengan bahasa yang berbeda-beda. Di ruangan itu terdapat delapan orang dengan aksen bicara dan pakaian yang berbeda-beda. Ada dua orang laki-laki yang mengenakan baju zirah dengan lambang naga di bagian dadanya, yang satu memiliki wajah yang tegas dan dewasa dengan rambut wajah yang tebal dan bekas luka yang membentang dari kening melewati mata hingga ke mulutnya dan pria di sebelahnya terlihat lebih muda dengan wajah tampan dan tatanan rambut klimisnya. Di sebelah laki-laki berbaju zirah itu terdapat dua orang wanita yang mengenakan pakaian yang eksentrik dengan motif lambang kesatuan sihir Zhrein, yang seorang memiliki tatapan tajam yang sama dengan mata dari ukiran ular pada tongkat yang tersandar di sisinya dan yang satunya mengenakan pakaian yang sama dan postur wajah yang mirip tetapi terlihat agak lebih muda serta pandangan mata yang tajam yang menyerupai ukiran elang pada kepala tongkat yang ia genggam. Di sisi kiri meja terdapat sepasang makhluk mortal yang memiliki bentuk tubuh manusia tetapi dengan telinga yang panjang, menurutku mereka dari bangsa Revlien atau sebangsa elf yang mendiami hutan-hutan di Rar (bumi bagi penduduk langit ke empat) yang dapat diketahui dari pakaian mereka yang terbuat dari sutra emas hijau dan ranting emas yang cara pembuatannya hanya diketahui para Revlien itu sendiri. Di depanku terdapat seorang perempuan berambut putih panjang dan menggunakan baji zirah berwarna emas yang tadinya menghadap meja dan berbalik saat aku hadir di ruangan itu, dari warna rambutnya dapat ku ketahui bahwa ia salah seorang Raivra dan orang terakhir di ruangan itu adalah seorang Zelphir (aristokrat) yang langsung dapat ku ketahui dari jas lusuhnya serta jam emas yang tidak pernah lepas dari tangan kirinya. Suasana menjadi hening ketika aku melangkahkan kaki ke dalam ruangan itu. “rhvts zair il savern?” (apa dia orangnya) tanya laki-laki tua berbaju zirah itu. “naith zair il savern” (pastilah ia orangnya) jawab wanita bertongkat ular. “Lai, zir il saverniend” (ya, dialah orangnya) jawab masterku menyudahi pertanyaan mereka. “Narund, zair saverni nus tavur” (apa, dia hanya seorang anak kecil. kita tidak bisa melakukannya) ungkap laki-laki Ravlien itu. “Lai, das sair vaur garundend” (Ya, tapi kita harus melakukannya) sanggah pria tua berbaju besi itu. “nevast!” (cukup!) kata wanita berbaju emas dengan nada tinggi. Suasana pun menjadi hening karena teriakannya itu. “garah tava rosand” (ambillah beberapa manisan) perintah master kepadaku dengan tangannya mengawal punggungku ke arah tangga kayu menuju lantai atas. Ya, aku harus menyingkir sebentar dari pertemuan itu.

Akupun berjalan menjajaki satu-persatu tangga kayu itu menuju lantai atas dengan pertanyaan masih memenuhi kepalaku. “apa yang mereka katakan? apa yang mereka ketahui tapi aku tidak ketahui?” aku bingung…. Sesampainya di lantai dua Rhanve menyambutku di depan kamarnya dengan wajah cemas. “Ey Amon, neinderendth sharand” (hai Amon, kemarilah sebentar). “Lai, evandh?” (ya, ada apa?). “Air nov nevrstera nair vuld asul den thentareth dev sanien” (aku tahu, pasti kamu sedang binguang dengan apa yang terjadi di bawah sana). “Air nos nevrstera vandh sul xaverien en taruth, aven savelie air varu” (aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, bahkan aku tak tahu siapa mereka), “saveil honore taruth Amon” (kenangan itu masih menghantuiku Amon). “thenarith sul tareidh Rhanve?!” (apa yang terjadi Rhanve). “nost , shanund…” (tidak, hanya saja…) dapat kulihat kecemasan semakin dalam pada raut wajah Rhanve. “Nosand everin thu nast manduredon benair” (tak apa jika itu akan memberatkanmu Rhanve). “nah nos Amon, kanand nazund voromos dathair sove bair herit bal sonond for ravorind desair” (ah tidak Amon, tapi jangan beritahukan ayahku karena ia telah melarangku untuk mengatakannya kepadamu). “Air nosten varuf Rhanve” (aku tidak akan melakukannya Rhanve). “ayundh, averi non thosemond , xavi remo simond nair havulet vas jafund bas kinairen” (bagus, sebenarnya aku tidak terlalu mengetahui masalah yang terjadi, tapi kamu harus pergi dari sini untuk menyelamatkan diri). “narund everiomond nusan darandh?” (itukah yang terjadi pada penduduk lembah yang lain? “Lai, dathair savorige nusan darandh kevrya terond dav silaind” (ya, ayahku telah menyuruh penduduk desa lain mengungsi ke puncak gunung) “Air nevo nes thontherond tarath” (aku masih belum mengerti apa yang mereka bicarakan) jawabku dengan nada merendah.

Responses

  1. kelanjutan novel ini akan saya post setiap harinya, terimakasih telah membaca.🙂 erh zair inth revair nurd azund amun…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: